Skip links
SERP Analysis

SERP Analysis: Cara Membaca Struktur Hasil Pencarian untuk SEO

Pernah nggak sih kalian riset keyword sampai detail, bikin konten yang menurut kalian sudah lengkap banget, tapi eh, konten kalian stuck di halaman dua atau bahkan tiga? Atau lebih parah lagi: kalian targeting keyword dengan volume tinggi, tapi malah yang ranking adalah artikel kompetitor yang, secara objektif, lebih pendek dan kurang mendalam dari punya kalian?

Kalau iya, kemungkinan besar ada satu langkah krusial yang terlewat: SERP analysis.

SERP, atau Search Engine Results Page, bukan cuma daftar link. Ini adalah peta yang menunjukkan apa yang pengguna butuhkan, bagaimana Google menginterpretasi intent mereka, dan format konten seperti apa yang paling efektif untuk ranking.

Di artikel ini, kita akan membedah SERP dari A sampai Z: mulai dari elemen-elemen yang ada di dalamnya, cara membaca intent dari struktur SERP, hingga langkah-langkah praktis untuk melakukan SERP analysis secara sistematis. Lebih dari sekadar teori, saya juga akan bagikan contoh kasus nyata dan kesalahan umum yang sering terjadi.

Mari kita mulai.


Apa Itu SERP Analysis?

SERP analysis adalah proses menganalisis struktur dan elemen yang muncul di halaman hasil pencarian Google untuk query tertentu. Tujuannya sederhana: memahami apa yang Google tampilkan, kenapa, dan bagaimana kita bisa mengoptimalkan konten berdasarkan informasi tersebut.

Ini bukan cuma soal melihat siapa yang ranking #1, tapi tentang memahami pola di balik hasil pencarian, format konten yang dominan, SERP features yang muncul, dan bagaimana semua itu mencerminkan kebutuhan pengguna.

Pengertian SERP (Search Engine Results Page)

SERP adalah halaman yang muncul saat kalian mengetikkan sesuatu di Google. Simpel, kan? Tapi yang tidak sederhana adalah bagaimana Google menyusun halaman tersebut.

Setiap SERP dirancang untuk memberikan jawaban yang paling relevan dengan intent pengguna. Google tidak sekadar menampilkan 10 link biru, mereka menampilkan berbagai elemen: featured snippets, video, gambar, knowledge panel, local pack, dan masih banyak lagi.

Semua elemen ini dipilih dan disusun berdasarkan interpretasi Google terhadap apa yang paling berguna untuk query tersebut.

Kenapa SERP Analysis Penting untuk SEO?

Karena SERP adalah cermin dari apa yang Google dan pengguna inginkan.

Membaca Intent Pengguna dari Hasil Pencarian

Saat kalian melihat SERP, kalian sebenarnya sedang melihat hasil interpretasi Google terhadap intent pengguna. Kalau SERP penuh dengan artikel blog dan featured snippet, itu artinya intent-nya informational. Kalau penuh dengan halaman produk dan shopping ads, jelas intent-nya transactional.

Tanpa SERP analysis, kalian bisa saja bikin konten yang technically correct, tapi strategically wrong, tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dicari pengguna.

Mengidentifikasi Peluang Konten

SERP analysis membantu kalian menemukan celah yang belum diisi kompetitor. Misalnya:

  • Apakah ada pertanyaan di People Also Ask yang belum ada yang bahas secara mendalam?
  • Apakah semua konten yang ranking bentuknya artikel, padahal topiknya lebih cocok pakai video?
  • Apakah ada subtopik yang muncul di related searches tapi belum ada konten spesifik untuk itu?

Semua ini adalah peluang.

Mengetahui Faktor yang Memengaruhi Klik (CTR)

SERP bukan cuma tentang ranking, tapi juga tentang visibility dan CTR. Kalau ada featured snippet yang dominan, meski kalian ranking #1 di organic results, CTR kalian bisa jadi rendah karena pengguna sudah dapat jawaban dari snippet.

Dengan memahami struktur SERP, kalian bisa adjust strategi untuk maximize visibility, bukan sekadar ranking.

Baca: Apa itu SERP: Ini Penjelasan Lengkapnya


Elemen-Elemen Utama di Halaman Hasil Pencarian Google

Elemen-Elemen Utama di SERP Google

Google SERP terdiri dari berbagai elemen, dan tidak semua query menampilkan semua elemen. Berikut adalah komponen-komponen yang paling sering muncul dan apa artinya.

Organic Results (Hasil Organik)

Ini adalah 10 hasil utama yang muncul berdasarkan algoritma ranking Google. Hasil organik adalah yang paling familiar, berisi title, URL, dan meta description.

Title, URL, Meta Description

  • Title: Headline yang muncul di SERP, biasanya diambil dari title tag halaman (tapi kadang Google bisa rewrite).
  • URL: Alamat halaman yang ditampilkan, biasanya breadcrumb path yang lebih readable.
  • Meta description: Ringkasan konten yang muncul di bawah title, bisa diambil dari meta description tag atau di-generate otomatis oleh Google dari konten halaman.

Ketiga elemen ini adalah first impression kalian di SERP. Kalau tidak menarik atau tidak sesuai intent, pengguna tidak akan klik, meskipun kalian ranking tinggi.

Breadcrumbs

Breadcrumbs adalah navigational path yang muncul di atas atau di dalam URL. Contoh: crooud.com › Blog › SEO › SERP Analysis

Ini membantu pengguna memahami konteks halaman dalam struktur website kalian, dan juga memberikan sinyal ke Google tentang hierarki konten.

Featured Snippets

Featured snippet adalah jawaban langsung yang muncul di atas hasil organik (posisi #0). Google mengambil sebagian konten dari halaman yang ranking dan menampilkannya secara prominent.

Ada tiga tipe utama:

Paragraph Snippet

Format paragraf singkat yang langsung menjawab query. Biasanya muncul untuk query definitional seperti “apa itu SEO”, “kenapa backlink penting”.

List Snippet

Format list (numbered atau bulleted) yang muncul untuk query how-to atau yang butuh langkah-langkah. Contoh: “cara membuat sitemap XML”.

Table Snippet

Format tabel yang muncul untuk query perbandingan atau data terstruktur. Contoh: “perbandingan Ahrefs vs SEMrush”.

Featured snippet adalah holy grail untuk informational intent, karena CTR-nya bisa sangat tinggi, atau justru menyebabkan zero-click search (pengguna sudah dapat jawaban tanpa perlu klik).

People Also Ask (PAA)

PAA adalah kotak pertanyaan yang muncul di SERP, biasanya berisi 4-5 pertanyaan terkait dengan query utama.

Menampilkan Pertanyaan Relevan

Setiap pertanyaan bisa di-expand untuk melihat jawaban singkat yang diambil dari berbagai halaman. PAA adalah eksplorasi dari berbagai sudut pandang tentang satu topik.

Mengungkap Pola Pertanyaan Pengguna

PAA sangat berguna untuk content ideation. Kalau kalian lihat pola pertanyaan yang muncul, kalian bisa tahu apa lagi yang ingin diketahui pengguna tentang topik tersebut.

Contoh: Query “SEO” memunculkan PAA seperti:

  • “Apa itu SEO dan kenapa penting?”
  • “Bagaimana cara kerja SEO?”
  • “Berapa lama SEO butuh waktu untuk hasil?”

Semua pertanyaan ini bisa jadi subtopik dalam artikel comprehensive kalian.

Knowledge Panel

Knowledge panel adalah kotak informasi yang muncul di sisi kanan SERP (desktop) atau di atas (mobile), biasanya untuk entitas yang sudah dikenal Google.

Untuk Entitas Seperti Brand, Tokoh, Tempat, Produk

Knowledge panel menampilkan informasi terstruktur tentang entitas tersebut: deskripsi singkat, gambar, social media links, review, dan data lain yang diambil dari knowledge graph Google.

Untuk brand atau bisnis, memiliki knowledge panel adalah sinyal kuat bahwa Google menganggap entitas kalian credible. Ini juga meningkatkan visibility untuk branded queries.

Image Pack

Image pack adalah galeri gambar yang muncul di SERP, biasanya untuk query yang bersifat visual.

Muncul untuk Query Visual (Resep, Inspirasi, Objek)

Contoh query: “desain logo minimalis”, “resep nasi goreng”, “rumah modern”.

Kalau image pack muncul, itu artinya pengguna ingin melihat sesuatu, bukan hanya membaca tentangnya. Untuk SEO, ini berarti kalian perlu optimize gambar dengan alt text, filename, dan structured data yang tepat.

Video Pack

Video pack adalah carousel video yang muncul di SERP, biasanya diambil dari YouTube atau platform video lain.

Biasanya Tampil untuk How-To, Tutorial, Review

Contoh query: “cara install WordPress”, “review iPhone 15”.

Kalau video pack dominan di SERP, itu sinyal jelas bahwa pengguna prefer belajar lewat video. Kalau kalian cuma punya artikel text, kemungkinan besar akan sulit compete, atau kalian perlu embed video di dalam artikel.

Local Pack (Map Pack)

Local pack adalah hasil berbasis lokasi yang muncul dengan Google Maps dan 3 bisnis teratas di area tersebut.

Untuk Pencarian Berbasis Lokasi dan Layanan Lokal

Contoh query: “restoran di Batu”, “jasa SEO Surabaya”, “bengkel terdekat”.

Local pack sangat krusial untuk local SEO. Kalau bisnis kalian lokal dan tidak muncul di local pack, kalian kehilangan mayoritas traffic potential.

Top Stories / News Boxes

Top stories adalah carousel berita yang muncul untuk query yang bersifat trending atau breaking news.

Muncul untuk Query yang Bersifat Trending atau Berita

Contoh query: “pemilu 2024”, “harga emas hari ini”, “gempa terkini”.

Untuk publisher berita atau blog yang fokus pada current events, muncul di top stories adalah huge visibility boost, tapi ini juga butuh freshness dan authority.

Shopping Results (Product Listing Ads)

Shopping results adalah carousel produk yang muncul di SERP, biasanya untuk query transactional.

Untuk Intent Belanja yang Jelas (Harga, Beli, Produk)

Contoh query: “beli sepatu running”, “harga iPhone 15 Pro”.

Kalau shopping results muncul, itu artinya intent-nya jelas transactional. Kalau kalian bikin artikel blog untuk query seperti ini, kemungkinan besar akan sulit ranking, atau kalian perlu pivot ke halaman produk atau affiliate review.

Related Searches

Related searches adalah saran query lain yang muncul di bagian bawah SERP.

Pelengkap untuk Memahami Variasi Query

Related searches membantu kalian memahami variasi dan nuansa dari query utama. Contoh: query “SEO” bisa punya related searches seperti “SEO untuk pemula”, “perbedaan SEO dan SEM”, “tools SEO gratis”.

Ini adalah goldmine untuk long-tail keyword dan content expansion.

Baca juga: Search Intent SEO: Panduan Lengkap & Strategi Optimasi 2026


Cara Membaca Intent Pengguna dari Struktur SERP

Inti dari SERP analysis adalah memahami apa yang diinginkan pengguna berdasarkan bagaimana Google menyusun hasil pencarian.

Dominasi Konten Informasional

Banyak Artikel Blog / Snippet → Intent Informasi

Kalau SERP penuh dengan artikel edukatif, featured snippet, dan People Also Ask, itu artinya intent-nya informational.

Contoh query: “apa itu backlink”, “cara kerja Google algorithm”.

Untuk query seperti ini, strategi konten kalian harus fokus pada memberikan penjelasan yang jelas, mendalam, dan actionable. Format yang cocok: artikel blog, panduan, tutorial.

Dominasi Konten Komersial

Munculnya PLAs, Review, Perbandingan

Kalau SERP menampilkan product listing ads (PLAs), artikel review, atau halaman perbandingan, itu artinya intent-nya commercial investigation.

Contoh query: “tools SEO terbaik”, “Ahrefs vs SEMrush”.

Pengguna sedang riset sebelum membeli. Format yang cocok: listicle, comparison table, pros & cons breakdown.

Dominasi Konten Transaksional

Ecommerce & Halaman Produk Mendominasi Hasil

Kalau SERP didominasi oleh halaman produk, landing page, dan shopping carousel, itu artinya intent-nya transactional.

Contoh query: “beli domain murah”, “harga hosting Niagahoster”.

Pengguna sudah siap beli. Format yang cocok: landing page produk, halaman pricing, checkout page.

Dominasi Konten Navigasional

Brand Utama Muncul Pertama, Knowledge Panel Aktif

Kalau SERP didominasi oleh satu brand tertentu, dengan knowledge panel dan sitelinks, itu artinya intent-nya navigational.

Contoh query: “Facebook login”, “Tokopedia seller center”.

Pengguna sudah tahu persis kemana mereka ingin pergi. Kalau query-nya branded query kompetitor, jangan buang waktu trying to rank, fokus ke branded query sendiri.

SERP Campuran (Mixed Intent)

Saat Google Belum Sepenuhnya “Yakin” dengan Tujuan Pencarian Pengguna

Kadang SERP menampilkan campuran berbagai format: artikel blog, video, halaman produk, semuanya ada.

Ini biasanya terjadi saat query-nya ambiguous atau bisa diinterpretasi dengan berbagai cara.

Contoh query: “WordPress”, bisa berarti “apa itu WordPress” (informational), “download WordPress” (transactional), atau “WordPress.com login” (navigational).

Untuk query seperti ini, kalian perlu test and iterate, buat konten, lihat performa, adjust berdasarkan data.

Baca: Apa Itu CTR dalam SEO & Cara Mengoptimalkannya


Cara Mengidentifikasi Pola SERP untuk Mengoptimalkan Konten

Sekarang kita masuk ke bagian praktis: bagaimana menggunakan SERP analysis untuk inform strategi konten.

Analisis Format Konten yang Ranking

Apakah Konten yang Ranking Bentuknya: Artikel, Video, FAQ, Produk?

Langkah pertama: lihat tipe konten yang ranking di top 10. Apakah:

  • Mayoritas artikel blog? → buat artikel
  • Mayoritas video? → buat atau embed video
  • Mayoritas halaman produk? → fokus ke transactional page
  • Mayoritas FAQ atau Q&A? → gunakan format tanya-jawab

Jangan fight melawan apa yang Google sudah anggap relevan. Kalau SERP-nya penuh video, artikel teks kalian akan sulit compete.

Analisis Panjang & Kedalaman Konten di SERP

Apakah Konten yang Unggul Bersifat Panjang & Lengkap?

Buka 3-5 artikel teratas dan cek:

  • Berapa word count-nya?
  • Seberapa mendalam pembahasannya?
  • Apakah mereka cover banyak subtopik atau fokus pada satu aspek?

Atau Justru Ringkas dan Fokus?

Kadang, konten yang ranking justru pendek dan to-the-point. Ini biasanya terjadi untuk query definitional atau yang butuh jawaban cepat.

Pelajaran: lebih panjang tidak selalu lebih baik. Yang penting adalah sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Analisis Gaya Penyajian Informasi

Step-by-Step, Definisi, Listicle, Perbandingan?

Perhatikan angle dan struktur konten yang ranking:

  • Apakah mereka pakai numbered steps? → how-to style
  • Apakah mereka pakai listicle? → ranked list style
  • Apakah mereka pakai comparison table? → vs style
  • Apakah mereka pakai storytelling? → narrative style

Gaya penyajian ini adalah petunjuk tentang bagaimana pengguna ingin informasi disajikan untuk query tersebut.

Melihat Entitas yang Dominan di SERP

Brand Tertentu Sering Muncul → High Trust Domain

Kalau kalian lihat nama-nama seperti Moz, Ahrefs, Search Engine Journal terus muncul di SERP untuk query SEO, itu artinya Google trust mereka sebagai authority di topik tersebut.

Untuk compete, kalian perlu build similar level of authority, atau fokus ke long-tail queries yang kompetisinya lebih rendah.

Menilai Kompleksitas Topik dari Variasi Element SERP

Banyak Pertanyaan di PAA = Topik Kompleks

Kalau PAA-nya banyak dan terus expand saat di-klik, itu artinya topiknya kompleks dan punya banyak sudut pandang.

Strategi: buat comprehensive guide yang cover semua aspek, atau buat content cluster dengan beberapa artikel yang fokus ke masing-masing subtopik.

Banyak Video = Topik Membutuhkan Demonstrasi

Kalau video pack muncul dan dominan, itu artinya topiknya lebih mudah dipahami lewat visual demonstration.

Strategi: buat video tutorial, atau minimal embed video di artikel kalian.

Baca: Apa Itu Konten Marketing: Penjelasan Detail


Hubungan SERP Analysis dengan Prioritas Konten

SERP analysis bukan cuma untuk optimize konten yang sudah ada, tapi juga untuk menentukan prioritas konten yang akan dibuat.

Menentukan Format Konten yang Tepat

Apakah Sebaiknya Menulis Artikel, Membuat Video, atau Halaman Produk?

Setelah analisis SERP, kalian bisa decide format yang paling efektif. Jangan bikin artikel kalau SERP-nya penuh video. Jangan bikin video kalau SERP-nya penuh artikel mendalam.

Match format dengan ekspektasi yang sudah di-set oleh SERP.

Mengidentifikasi Celah Konten

Konten yang Belum Dibahas Pesaing

Lihat PAA, related searches, dan bahkan komentar di artikel kompetitor. Apakah ada pertanyaan atau aspek yang belum dijawab secara memuaskan?

Itu adalah content gap yang bisa kalian isi.

Contoh: semua artikel tentang “SEO untuk pemula” fokus ke on-page, tapi tidak ada yang bahas mindset atau common mistakes. Itu peluang untuk differentiate.

Menganalisis Kesempatan untuk Rich Results

FAQ Schema, How-To Schema, Breadcrumbs

Kalau kalian lihat featured snippet atau rich results di SERP, itu artinya Google open untuk menampilkan structured data.

Strategi: implementasi schema markup yang relevan (FAQ, HowTo, Article, Breadcrumbs) untuk increase chance muncul di rich results.

Menilai Tingkat Kompetisi SERP

Publisher Besar vs Niche/Ahli

Kalau SERP didominasi oleh brand besar (Forbes, HubSpot, Moz), kompetisi sangat tinggi.

Opsi kalian:

  1. Fokus ke long-tail yang kompetisinya lebih rendah
  2. Build authority dulu dengan konsisten publish quality content
  3. Leverage differentiator: local expertise, case study, unique data

Kalau SERP-nya lebih variatif dengan mix antara brand besar dan niche site, ada peluang untuk masuk.


Langkah-Langkah Melakukan SERP Analysis Secara Sistematis

Langkah Melakukan Analisis SERP

Sekarang kita breakdown prosesnya jadi langkah-langkah yang actionable.

Langkah 1: Tentukan Query Target

Utamakan Query yang Muncul dari GSC & Riset Pengguna

Jangan asal pilih keyword. Prioritaskan:

  1. Query yang sudah bringing traffic tapi ranking-nya bisa di-improve (posisi 5-15)
  2. Query yang punya impression tinggi tapi CTR rendah (ada peluang optimize title/meta)
  3. Query yang relevant dengan business goal dan customer journey

Langkah 2: Screenshot & Dokumentasikan SERP

Catat Fitur SERP yang Muncul

Buka query target di incognito mode (untuk hasil yang lebih netral), lalu:

  • Screenshot full SERP (desktop dan mobile kalau perlu)
  • Catat semua elemen yang muncul: featured snippet, PAA, video pack, local pack, dll.
  • Dokumentasi ini penting untuk track changes over time

Tool yang bisa membantu: SERP checkers seperti Ahrefs, SEMrush, atau manual screenshot.

Langkah 3: Identifikasi Intent yang Dominan

Informasional, Komersial, Navigasional, dll.

Berdasarkan elemen SERP yang muncul, tentukan intent dominan:

  • Informational: banyak artikel, featured snippet, PAA
  • Commercial investigation: review, comparison, listicle
  • Transactional: product pages, shopping carousel
  • Navigational: brand-specific results, knowledge panel

Kalau mixed intent, tentukan mana yang paling dominan dan fokus ke situ dulu.

Langkah 4: Analisis 5–10 Konten Teratas

Format, Struktur, Gaya Bahasa, Kedalaman

Buka dan baca (atau minimal skim) konten yang ranking di posisi 1-10. Perhatikan:

  • Format: artikel, video, landing page, FAQ?
  • Struktur: pakai heading apa saja? Pakai listicle, numbered steps, atau narrative?
  • Gaya bahasa: formal atau casual? Technical atau beginner-friendly?
  • Kedalaman: berapa word count? Seberapa detail pembahasannya?
  • Visual: banyak pakai gambar, infografis, atau chart?
  • Unique angle: ada differentiator yang bikin mereka stand out?

Buat spreadsheet atau notes untuk compare semua ini.

Langkah 5: Temukan Pola & Kesimpulan

Apa yang Dibutuhkan Pengguna?

Dari semua data yang kalian kumpulkan, tarik kesimpulan:

  • Apa yang pengguna cari saat mereka ketik query ini?
  • Format apa yang paling efektif untuk deliver value?
  • Apa gap yang bisa kalian isi?

Apa yang Google Lebih Suka Tampilkan?

  • Tipe konten apa yang konsisten ranking tinggi?
  • Apakah ada pola dalam struktur atau angle konten tersebut?
  • Apakah ada schema markup atau technical optimization tertentu yang dominan?

Berdasarkan kesimpulan ini, kalian bisa design content strategy yang align dengan ekspektasi SERP.


Kesalahan Umum dalam SERP Analysis

Dari pengalaman kerja dengan ratusan klien, ini beberapa error yang sering saya lihat.

Hanya Fokus pada Ranking Tanpa Membaca Strukturnya

Banyak yang cuma lihat “oh, website ini ranking #1, berarti kontennya bagus”, tanpa actually analisis kenapa konten itu ranking dan apakah relevan dengan apa yang kita targetkan.

Ranking bukan satu-satunya indikator. Intent match lebih penting.

Menganalisis SERP Sekali Saja, Tidak Berkala

SERP berubah. Google terus testing, algoritma update, kompetitor publish konten baru. Kalau kalian cuma analisis sekali di awal, data kalian bisa jadi outdated dalam beberapa bulan.

Best practice: review SERP setiap 3-6 bulan, atau lebih sering untuk query yang very competitive.

Mengabaikan Device-Based SERP (Mobile vs Desktop)

SERP di mobile bisa sangat berbeda dari desktop. Featured snippet yang prominent di desktop bisa jadi tidak muncul di mobile, atau sebaliknya.

Karena mayoritas traffic sekarang dari mobile, kalian wajib cek SERP di kedua device.

Tidak Memperhatikan Variasi SERP untuk Query yang Mirip

Query “SEO” dan “belajar SEO” meski mirip, bisa punya SERP yang berbeda karena intent-nya sedikit berbeda.

Jangan assume semua query di satu topik punya SERP yang sama. Analisis satu per satu, terutama untuk primary keywords.

Mengira SERP Sama untuk Semua Pengguna (Padahal Ada Personalisasi Ringan)

Google personalize hasil berdasarkan location, search history, dan behavior. Meski kalian pakai incognito, tetap ada baseline personalization berdasarkan lokasi IP.

Best practice: gunakan tools seperti Ahrefs atau SEMrush untuk hasil yang lebih neutral, atau cek dari berbagai lokasi kalau targeting multiple regions.


Contoh Kasus SERP Analysis

Mari kita lihat beberapa contoh nyata untuk memperjelas bagaimana SERP analysis bekerja.

Contoh 1: Query Informasional Panjang

Query: “cara membuat strategi konten SEO”

SERP yang Muncul:

  • Featured snippet: paragraph snippet dengan definisi singkat
  • People Also Ask: 5-6 pertanyaan seperti “apa itu content strategy”, “berapa lama SEO butuh waktu”, dll.
  • Organic results: mayoritas artikel blog panjang (2000-5000 kata) dengan struktur comprehensive
  • Related searches: “content calendar SEO”, “strategi konten media sosial”, dll.

Insight:

  • Intent: informational expanded, pengguna ingin panduan lengkap, bukan sekadar definisi
  • Format yang cocok: long-form guide dengan struktur step-by-step
  • Peluang: banyak pertanyaan di PAA yang bisa dijadikan subtopik dalam artikel comprehensive
  • Schema yang relevan: Article schema + FAQ schema untuk target featured snippet dan PAA

Action:

  • Buat artikel 3000-4000 kata dengan struktur jelas
  • Include definitional declaration di awal untuk target featured snippet
  • Jawab semua pertanyaan PAA dalam artikel
  • Tambahkan FAQ section di akhir dengan schema markup

Contoh 2: Query “Review Produk X”

Query: “review Ahrefs”

SERP yang Muncul:

  • Video pack: 3-4 video review dari YouTube
  • Organic results: mix antara artikel review mendalam dan halaman product official Ahrefs
  • People Also Ask: “apakah Ahrefs worth it”, “Ahrefs vs SEMrush mana lebih baik”, dll.
  • Related searches: “harga Ahrefs”, “alternative Ahrefs gratis”, dll.

Insight:

  • Intent: commercial investigation, pengguna sedang riset sebelum subscribe
  • Format yang cocok: artikel review mendalam + video (kalau ada)
  • Angle yang efektif: honest pros & cons, comparison dengan kompetitor, use case recommendations
  • Peluang: kebanyakan review fokus ke fitur, tapi kurang bahas siapa yang cocok pakai dan siapa yang tidak

Action:

  • Buat artikel review dengan struktur: overview → fitur → pros & cons → comparison → recommendation
  • Embed video review kalau ada, atau buat screen recording demo
  • Include comparison table dengan kompetitor
  • Tambahkan section “Ahrefs cocok untuk…” dan “Ahrefs tidak cocok untuk…”
  • Gunakan Review schema markup

Contoh 3: Query Layanan Lokal

Query: “jasa SEO Surabaya”

SERP yang Muncul:

  • Local Pack: Google Maps + 3 bisnis teratas dengan review
  • Organic results: website agency SEO lokal + beberapa artikel listicle “jasa SEO terbaik di Surabaya”
  • People Also Ask: “berapa biaya jasa SEO”, “bagaimana cara memilih agency SEO”, dll.
  • Related searches: “jasa SEO murah Surabaya”, “konsultan SEO Surabaya”, dll.

Insight:

  • Intent: commercial + local, pengguna ingin hire agency lokal
  • Format yang cocok: landing page layanan + local SEO optimization
  • Critical factor: Google My Business dan review
  • Peluang: banyak agency punya website tapi tidak optimize untuk local SEO (no local schema, no testimonial structured, no case study lokal)

Action:

  • Optimize Google My Business: lengkapi info, upload foto, minta review
  • Buat landing page “Jasa SEO Surabaya” dengan: overview layanan, case study klien lokal, pricing (kalau transparent), testimonial, CTA jelas
  • Gunakan LocalBusiness schema markup
  • Build local citations (direktori bisnis lokal)
  • Highlight klien atau case study dari Surabaya atau Jawa Timur

Checklist SERP Analysis untuk SEO Specialist

Supaya lebih actionable, ini checklist yang bisa langsung kalian pakai.

Checklist Identifikasi Intent

  • Apakah intent dominan informational, commercial, transactional, atau navigational?
  • Apakah ada mixed intent? Kalau ya, mana yang lebih dominan?
  • Apakah intent-nya berubah seiring waktu (cek archive atau historical SERP data)?

Checklist Struktur SERP

  • Apakah ada featured snippet? Tipe apa (paragraph, list, table)?
  • Apakah ada People Also Ask? Berapa banyak pertanyaan yang muncul?
  • Apakah ada video pack? Berapa banyak video yang ditampilkan?
  • Apakah ada image pack?
  • Apakah ada local pack?
  • Apakah ada knowledge panel?
  • Apakah ada shopping results?
  • Apakah ada top stories/news box?
  • Apakah ada related searches? Pola apa yang terlihat?

Checklist Format Konten

  • Apakah konten yang ranking mayoritas artikel, video, atau halaman produk?
  • Berapa word count rata-rata konten yang ranking di top 5?
  • Apakah konten yang ranking pakai format listicle, how-to, comparison, atau narrative?
  • Apakah ada pola struktur heading (H2, H3) yang konsisten?
  • Apakah konten yang ranking banyak pakai visual (gambar, chart, infografis)?

Checklist Peluang Optimasi

  • Apakah ada pertanyaan di PAA yang belum dijawab secara mendalam?
  • Apakah ada related searches yang bisa jadi long-tail opportunity?
  • Apakah ada content gap yang bisa kita isi?
  • Apakah ada peluang untuk target featured snippet atau rich results?
  • Apakah ada schema markup yang bisa kita implementasi?
  • Apakah kompetisi SERP feasible untuk target? (mix antara big brand dan niche site = ada peluang)

Baca: Apa Itu CTR dalam SEO & Cara Mengoptimalkannya


Penutup

SERP analysis bukan sekadar latihan akademis, ini adalah skill praktis yang langsung impact ke performa SEO kalian.

Selama belasan tahun menjalankan Crooud, saya melihat bagaimana understanding SERP bisa jadi game changer. Tim yang paham cara membaca SERP bisa predict apa yang akan work sebelum mereka bahkan mulai nulis. Mereka tidak buang waktu bikin konten yang “bagus secara teori” tapi “gagal di praktik” karena tidak match dengan ekspektasi SERP.

Intinya sederhana: SERP adalah peta yang menunjukkan jalan menuju ranking. Kalau kalian bisa baca peta ini dengan baik, kalian tidak akan tersesat.

Jadi sebelum kalian bikin konten berikutnya, luangkan 15-30 menit untuk analisis SERP. Lihat apa yang Google tampilkan, pahami kenapa mereka tampilkan itu, dan design konten kalian untuk match ekspektasi tersebut.

Kalau kalian butuh bantuan untuk melakukan SERP analysis yang lebih mendalam atau ingin tim kami yang handle strategi konten kalian, tim Crooud siap membantu. Karena di akhir hari, SEO bukan tentang fighting against Google, tapi tentang understanding apa yang Google dan pengguna inginkan, lalu deliver itu dengan cara terbaik.

Sampai jumpa di artikel berikutnya!