Skip links
Perbedaan Landing Page dan Website

Perbedaan Landing Page dan Website dalam Tujuan, Struktur, dan Konversi

Kalau kamu pernah ngobrol dengan orang yang baru saja buka bisnis online, hampir dipastikan ada momen yang cukup familiar: mereka yakin banget kalau mereka butuhnya cuma sebuah website yang bagus.

Ini nggak salah. Tapi juga nggak sepenuhnya benar.

Saya pernah ketemu pemilik bisnis yang sudah habisin puluhan juta bikin website, desainnya keren, kontennya lengkap, animasinya halus, tapi pas jalanin iklan Google Ads atau Meta Ads, hasilnya mengecewakan. Leads masuk sedikit, cost per lead tinggi, konversi nyaris nihil.

Mereka balik nanya, “Artinya iklan saya yang bermasalah, ya?”

Belum tentu. 

Seringnya masalahnya bukan di iklan. Masalahnya karena mereka mengarahkan trafik berbayar ke website, padahal seharusnya yang mereka pakai adalah landing page.

Nah bagi orang awam, dua hal ini terdengar mirip. 

Keduanya sama-sama ada di internet. Keduanya punya URL. 

Tapi tujuan, struktur, dan cara kerjanya sangat berbeda, saat kamu pakai yang salah untuk situasi yang salah, hasilnya ya seperti tadi, sudah buang budget, tapi hasilnya minim.

Di artikel ini kita akan bedah tuntas perbedaan antara landing page dan website: apa definisi masing-masing, kapan harus pakai yang mana, dang gimana keduanya bisa saling bekerja sama dalam sebuah strategi digital yang terintegrasi dan solid.


Apa Itu Landing Page?

Landing page adalah halaman web tunggal yang dirancang khusus untuk mendorong satu tindakan konversi spesifik, tidak lebih, tidak kurang.

Kamu nggak bakal menemukan menu navigasi di sana. Nggak ada link ke halaman “Tentang Kami”, nggak ada footer berisi daftar layanan, nggak ada tombol yang mengarahkan pengunjung ke tempat lainnya. 

Semuanya, mulai dari headline, gambar, teks, hingga tombol CTA, diarahkan untuk satu tujuan tunggal: membuat pengunjung mengambil satu tindakan yang sudah ditentukan.

Tindakan ini bisa macam-macam, tergantung tujuan kampanye-nya:

  • Mengisi form untuk mendapatkan e-book gratis
  • Mendaftar sebagai peserta webinar
  • Membeli satu produk spesifik
  • Mengklaim promo berbatas waktu
  • Menghubungi tim sales lewat WhatsApp

Nah, karena fokusnya yang sangat sempit inilah, landing page memiliki performa konversi yang jauh lebih tinggi dibandingkan halaman website biasa.

Data dari industri menunjukkan jika conversion rate rata-rata landing page bisa 2–5 kali lebih tinggi dibandingkan halaman website umum untuk trafik berbayar yang sama.

Nah, terkait jenis, ada beberapa jenis landing page yang biasanya digunakan:

Squeeze page — Ini fokus digunakan untuk mengumpulkan email atau nomor WhatsApp, biasanya dengan iming-iming sesuatu yang gratis.

Sales page — Dirancang untuk berjualan langsung. Biasanya strukturnya lebih panjang, dengan penjelasan produk yang seringnya sangat detail dengan beberapa CTA tersebar di berbagai titik halaman.

Click-through page — Halaman perantara (hub) yang “memanaskan” pengunjung sebelum diarahkan ke halaman pembelian atau pendaftaran utama.

Lead capture page — Tujuannya mengumpulkan data prospek (nama, email, nomor HP) untuk bisa ditindaklanjuti tim sales.

[INSERT IMAGE: Ilustrasi tampilan landing page yang bersih — satu headline besar, satu formulir di tengah, satu tombol CTA berwarna mencolok, tanpa menu navigasi. Di sisi kanan ada label-label yang menunjuk ke elemen utama: “Satu CTA”, “Tanpa Navigasi”, “Satu Tujuan”. Style: clean flat design, warna biru dan oranye, nuansa profesional tapi mudah dipahami pemula.]

Baca: 16+ Cara Mendapatkan Banyak Backlink (2026)


Apa Itu Website?

Website adalah kumpulan halaman web yang saling terhubung di bawah satu domain, dirancang untuk melayani berbagai kebutuhan audiens sekaligus.

JIka landing page di ibaratkan sebuah lorong sempit yang langsung mengarah ke satu pintu, website ibarat gedung besar dengan ruangan yang banyak, dimana pengunjung bebas mengeksplorasi ruangan mana pun sesuai keinginan mereka.

Sebuah website standar untuk bisnis secara umum punya komponen seperti ini:

  • Beranda (homepage) — Pintu masuk utama, isinya overview bisnis dan proposisi nilai utama
  • Halaman layanan atau produk — Detail terkait apa yang ditawarkan
  • Blog atau artikel — Konten edukatif untuk audiens
  • Portofolio atau case study — Bukti hasil kerja
  • Halaman “Tentang Kami” — Sejarah, cerita dan siapa saja tim di balik bisnis
  • Halaman kontak — Cara pengunjung bisa menghubungi bisnis

Salah satu elemen yang paling membedakan antara website dan landing page adalah navigasi

Di website, pengunjung bisa melompat-lompat antar halaman sesuai minat mereka. Nah inilah yang justru membuat sebuah website efektif untuk membangun kepercayaan secara bertahap, pengunjung bisa eksplorasi sesuka mereka, mempelajari bisnismu, membaca testimoni pelanggan sebelumnya, baru kemudian memutuskan untuk menghubungi.

Selain itu, website juga punya keunggulan besar dalam hal SEO organik jangka panjang

Dengan banyaknya jumlah halaman, internal linking yang terstruktur, dan konten yang ditambahkan secara  konsisten, seiring waktu website bisa membangun apa yang disebut dengan topical authority, sinyal bagi Google kalau bisnismu adalah sumber terpercaya di bidang tertentu. 

Nah ini, adalah sesuatu yang nggak bisa dilakukan oleh sebuah landing page.

Baca: Trend Digital Marketing 2026: Strategi Efektif dari AI Hingga Influencer


Perbedaan Utama Landing Page dan Website

Tabel berikut bisa membantumu melihat perbandingan langsung melihat perbedaan antara keduanya:

AtributLanding PageWebsite
Jumlah halamanSatu halamanBanyak halaman
Tujuan utamaSatu konversi spesifikInformasi, edukasi, brand building
NavigasiTidak adaAda (menu, footer, internal link)
Target audienstrafik bertarget (iklan, email)Audiens luas, berbagai tahap
Metrik keberhasilanConversion rate, cost per leadtrafik, waktu di halaman, SEO ranking
Performa untuk paid trafikSangat tinggiLebih rendah
Kekuatan SEO organikTerbatasSangat kuat
Waktu kunjungan rata-rataSingkat, berorientasi aksiLebih lama, eksplorasi

Perbedaan yang paling penting untuk kalian pahami adalah soal tujuan audiens saat mereka tiba di halaman.

Pengunjung yang datang dari iklan biasanya sudah punya intent yang jelas,  mereka mengklik iklan karena tertarik pada penawaran spesifik. 

Kalau misalnya mereka tiba di sebuah website dengan banyak menu dan banyak pilihan, tentu perhatian mereka bakal pecah. 

Mereka bisa jadi mungkin browsing sebentar lalu exit tanpa melakukan tindakan apapun. 

Di dunia iklan berbayar, ini artinya kamu sudah bayar untuk klik yang tidak ada konversinya, bahasa gaulnya; boncos.

Nah sebaliknya, pengunjung yang datang secara organik dari Google search biasanya sedang dalam mode eksplorasi. 

Mereka butuh banyak konteks, mulai dari memahami siapa kamu, apa yang kamu tawarkan, apakah kamu bisa dipercaya. Jadi, website dengan konten yang lengkap adalah jawaban yang tepat bagi mereka.


Kapan Menggunakan Landing Page?

Jawaban singkatnya: gunakan landing page saat kamu menjalankan kampanye dengan tujuan konversi yang jelas dan trafik yang tertarget.

Ini tiga situasi yang paling tepat untuk menggunakan landing page:

Kampanye iklan berbayar (Google Ads & Meta Ads). 

Ini situasi paling klasik. 

Saat seseorang mengklik iklan “Beli Sekarang” atau “Klaim Diskon 50%”, mereka biasanya sudah ada di titik yang sangat spesifik dalam perjalanan pembelian (buyer journey). 

Mengarahkan mereka ke halaman website umum hanya akan memecah fokus mereka. 

Sementara landing page yang isinya selaras dengan pesan yang ada di iklan, istilahnya message match,  bisa meningkatkan leads berbayar rata-rata 50–80% dibanding mengarahkannya ke homepage sebuah website.

Peluncuran produk baru. 

Baik untuk produk SaaS, merchandise limited edition, atau layanan baru, landing page memungkinkan kamu untuk menyampaikan satu pesan yang kuat tanpa gangguan dari konten lain di website. 

Pengunjung hanya akan fokus pada satu penawaran, dan enaknya lagi, kamu bisa mengukur seberapa baik penawaran itu beresonansi.

Pendaftaran webinar, event, atau program. 

Saat kamu mengundang orang untuk melakukan satu tindakan dalam waktu terbatas — daftar webinar minggu depan, ikut bootcamp bulan ini — landing page adalah format yang paling efisien. Tidak perlu mereka tahu banyak soal bisnismu. Yang penting: apa evennya, kenapa mereka harus ikut, dan di mana tombol daftarnya.


Kapan Menggunakan Website?

Gunakan website saat tujuanmu adalah untuk membangun presensi kehadiran digital dalam jangka panjang dan untuk melayani audiens dengan kebutuhan yang beragam.

Ini tiga situasi yang paling tepat untuk menggunakan website:

Membangun brand awareness dan kepercayaan. 

Sebelum seseorang mau beli atau menghubungi kamu, mereka sebelumnya ingin tahu siapa kamu. 

Website memberikkan kamu ruang untuk menceritakan kisah bisnis, menampilkan siapa saja tim dibaliknya, memperlihatkan portofolio, dan membangun kepercayaan secara bertahap, sesuatu yang sulit dilakukan hanya dengan satu halaman tunggal.

Strategi SEO organik. 

Kalau kamu ingin trafik dari Google tanpa perlu bayar iklan terus-menerus, website adalah fondasi yang tidak bisa digantikan. 

Setiap artikel blog, setiap halaman layanan, setiap halaman FAQ adalah peluang untuk muncul di pencarian yang relevan. Dengan strategi topical authority dan internal linking yang solid, website bisa terus mendatangkan trafik organik selama bertahun-tahun.

Katalog produk atau portofolio lengkap. 

Bisnis dengan layanan yang banyak atau yang memiliki produk yang butuh ruang lebih untuk menampilkan semua penawaran mereka secara terstruktur. 

Tentu nggak mungkin semua ini bisa muat, atau layak untuk ditaruh di satu halaman semacam landing page. 

Website memberikan fleksibilitas untuk mengatur informasi sedetail yang dibutuhkan.

[INSERT IMAGE: Ilustrasi perbandingan dua skenario — di sisi kiri, seseorang mengklik iklan dan langsung masuk ke landing page bersih dengan satu CTA. Di sisi kanan, seseorang browsing Google, menemukan artikel di website, lalu menjelajahi beberapa halaman sebelum menghubungi. Style: flat illustration dua panel, warna berbeda untuk membedakan dua jalur, tone warna biru dan hijau.]


Apakah Landing Page Bisa Menjadi Bagian dari Website?

Bisa! dan ini justru pendekatan yang sering direkomendasikan.

Landing page nggak harus berdiri sendiri di domain terpisah. Kamu bisa mengintegrasikannya ke dalam website yang sudah ada melalui dua cara:

Subfolder: crooud.com/promo-ramadan 

Subdomain: promo.crooud.com

Keuntungan integrasi ini cukup signifikan. Landing page yang berada di bawah domain utama yang sudah punya domain authority akan lebih dipercaya oleh browser. Pengunjung yang sudah familiar dengan brand juga lebih nyaman mengisi formulir di domain yang mereka kenal.

Kapan sebaiknya diintegrasikan ke website? Saat kampanye kamu terkait erat dengan layanan utama bisnis dan kamu ingin memanfaatkan authority domain yang sudah ada.

Kapan sebaiknya dipisah? Saat kampanye kamu sangat berbeda dari positioning utama brand, atau saat kamu ingin menjalankan A/B testing yang lebih bebas tanpa mempengaruhi arsitektur website utama.

Baca: Perbedaan SEO dan SEM, Mana yang Lebih Baik?


Mana yang Lebih Baik untuk SEO?

Jawaban langsung: untuk SEO organik jangka panjang, website jauh lebih unggul. Untuk kualitas kampanye berbayar, landing page yang di optimasi adalah yang terbaik.

Kenapa landing page lemah untuk SEO organik? Karena SEO butuh konten yang kaya, internal linking yang terstruktur, dan kemampuan halaman untuk di-crawl dan diindeks dengan konteks yang memadai. 

Landing page dengan konten minimalis, tanpa navigasi, dan fokus pada satu aksi tidak memberikan sinyal yang cukup bagi Google untuk menempatkannya di posisi kompetitif untuk keyword organik.

Sebaliknya, kenapa website kuat untuk SEO? 

Website dengan puluhan atau ratusan halaman yang saling terhubung membangun topical authority, sinyal bagi Google kalau domain ini adalah sumber yang dalam dan terpercaya untuk topik tertentu. 

Menurut Google Search Central, konten yang terorganisasi dengan baik dan memberikan nilai nyata bagi pengguna adalah fondasi dari performa pencarian organik yang kuat.

Namun yang perlu dipahami juga: landing page yang merupakan bagian dari website bisa mendapat manfaat dari authority domain induknya. Selain itu, landing page yang dioptimalkan dengan baik juga bisa meningkatkan Quality Score di Google Ads, yang artinya cost per click lebih rendah dan posisi iklan lebih baik.

Strategi terbaik: kombinasi keduanya.

Bangun website sebagai fondasi SEO dan brand authority jangka panjang. Buat landing page spesifik untuk setiap kampanye berbayar yang kamu jalankan. Keduanya bekerja di layer yang berbeda, dan saat dijalankan bersama, hasilnya jauh lebih optimal daripada mengandalkan salah satu saja.


Penutup

Bertahun tahun di dunia digital marketing mengajarkan saya satu hal: tool yang salah di situasi yang tepat tetap tidak akan berhasil.

Website dan landing page bukan kompetitor satu sama lain. Mereka itu ibarat rekan kerja yang punya peranan berbeda. Website membangun kepercayaan dan kehadiran jangka panjang. Sementara landing page tugasnya mengkonversi trafik yang sudah siap bertindak. 

Keduanya butuh satu sama lain untuk bekerja dengan maksimal.

Jadi sebelum kamu memutuskan mana yang harus dibuat duluan, atau mana yang harus dioptimalkan sekarang, mulailah dari pertanyaan yang tepat: 

“Apa tujuan spesifik yang ingin saya capai, dan siapa audiens yang sedang saya layani saat ini?”

Jawaban ini yang akan mengarahkanmu ke pilihan yang tepat.

Kalau kalian butuh bantuan menentukan strategi yang sesuai, mau itu membangun website yang solid untuk SEO, atau membuat landing page yang mampu mengkonversi dengan optimal, atau bahkan menggabungkan keduanya, tim saya di Crooud siap duduk bareng dan mencari solusi yang paling masuk akal buat bisnismu.

Baca juga:


FAQ — Perbedaan Landing Page dan Website

Apakah landing page butuh domain tersendiri? 

Tidak. Landing page bisa hidup sebagai subfolder (domain.com/nama-promo) atau subdomain (promo.domain.com) dari website yang sudah ada. Bahkan pendekatan ini sering lebih menguntungkan karena kamu bisa memanfaatkan authority domain yang sudah terbangun. Domain terpisah hanya perlu dipertimbangkan untuk kampanye yang benar-benar berbeda jauh dari identitas brand utama.

Berapa conversion rate rata-rata landing page yang baik? 

Untuk B2B, conversion rate 3–5% sudah dianggap solid. Untuk e-commerce, angka 5–10% adalah target yang realistis tergantung industri dan harga produk. Tapi angka ini sangat dipengaruhi oleh kualitas trafik, relevansi pesan, dan desain halaman — jadi jadikan ini patokan awal, bukan standar kaku.

Apakah halaman produk di toko online termasuk landing page? 

Bukan, meskipun sering disalahpahami demikian. Halaman produk di platform e-commerce seperti Tokopedia atau Shopee — maupun di website toko online — masih memiliki navigasi penuh: menu, kategori, rekomendasi produk lain, footer. Landing page sejati menghilangkan semua elemen itu dan hanya menyisakan satu jalur tindakan. Halaman produk adalah bagian dari ekosistem website, bukan landing page dalam arti yang sesungguhnya.