Skip links
Cara-Riset-Keyword-Untuk-Pemula-Advance-SEO (1)

Cara Riset Keyword untuk Pemula: Panduan Lengkap Sebelum Kamu Mulai Nulis Konten

Salah satu elemen terpenting dalam SEO adalah strategi riset keyword. Ada banyak proses dan faktor yang terlibat didalamnya. Jadi apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas keyword yang anda pilih?

Table of Contents

Saya masih ingat betul momen di mana seorang klien datang ke kantor Crooud dengan wajah frustasi.

Dia sudah nulis 20 artikel. Rajin posting seminggu dua kali. Template kontennya bagus, fotonya estetik, tulisannya juga enak dibaca. Tapi setelah 6 bulan berjalan, traffic organiknya nyaris nol.

Saat saya tanya, “Kamu riset keyword dulu sebelum nulis?”

Dia jawab, “Riset keyword itu apa?”

Nah, di situ saya sadar — ini bukan soal dia malas atau tidak serius. Dia belum tahu bahwa sebelum nulis satu kata pun, ada satu langkah krusial yang sering dilewatkan pemula: memastikan ada orang yang benar-benar mencari topik itu di Google.

Di artikel ini, kita akan bahas cara riset keyword dari nol — cara mencari keyword SEO yang tepat, cara memilih keyword yang realistis untuk dimenangkan, sampai cara riset kata kunci yang bisa langsung kamu praktikkan hari ini. Tidak perlu tools berbayar dulu. Tidak perlu jadi ahli SEO dulu.

Yang kamu butuhkan cuma niat untuk belajar dan panduan yang tepat. Dan itulah yang sedang kamu baca sekarang.

Kenapa Riset Keyword Itu Penting Banget (Bukan Sekadar Formalitas)

Bayangkan kamu punya warung makan baru di sebuah gang kecil. Kamu udah masak makanan enak, meja kursi sudah tertata rapi, harga pun bersaing. Tapi ternyata gang itu hampir tidak pernah dilalui orang.

Itulah yang terjadi saat kamu nulis konten tanpa riset keyword.

Kontennya mungkin bagus. Tapi kalau tidak ada orang yang mencarinya di Google, konten itu akan sepi. Tidak ada pengunjung, tidak ada pembeli, tidak ada hasil.

Riset keyword adalah cara kamu memastikan warungmu berada di jalan yang ramai — di topik yang memang aktif dicari orang.

Lebih spesifiknya, riset keyword membantumu untuk:

  • Tahu topik apa yang dicari audiensmu di Google
  • Memahami intent atau maksud di balik pencarian mereka
  • Memilih keyword yang realistis untuk kamu saingi
  • Membuat konten yang relevan dan berpeluang muncul di halaman pertama Google

Menurut data dari Ahrefs, sekitar 90,63% halaman di internet tidak mendapat satu pun traffic organik dari Google. Sembilan puluh persen. Itu bukan karena kontennya jelek — banyak di antaranya bahkan ditulis dengan serius. Tapi sebagian besar karena tidak ada proses riset keyword yang solid sebelum konten itu dibuat.

Apa Itu Keyword dan Apa Itu Search Intent?

Sebelum kita masuk ke cara riset kata kunci, penting untuk paham dua konsep dasar ini dulu.

Keyword

Keyword — atau kata kunci — adalah kata atau frasa yang diketikkan seseorang di kolom pencarian Google saat mereka sedang mencari informasi, produk, atau solusi.

Contohnya:

  • “cara membuat kopi susu”
  • “harga laptop gaming 5 jutaan”
  • “jasa desain logo Malang”

Setiap kata kunci itu memiliki volume pencarian — artinya, berapa banyak orang yang mengetikkan frasa itu dalam sebulan. Ada keyword yang dicari ribuan kali per bulan, ada yang hanya puluhan.

Search Intent

Search intent adalah maksud di balik pencarian seseorang. Ini yang sering diabaikan pemula, padahal ini sangat menentukan jenis konten yang harus kamu buat.

Ada empat tipe search intent utama:

Informasional — Orang sedang mencari informasi atau jawaban. Contoh: “cara riset keyword”, “apa itu SEO”, “kenapa website saya tidak muncul di Google.”

Navigasional — Orang mencari website atau brand tertentu. Contoh: “login Tokopedia”, “website Crooud Agency.”

Transaksional — Orang siap membeli atau mengambil tindakan. Contoh: “beli hosting murah”, “daftar kursus SEO online.”

Komersial — Orang sedang membandingkan sebelum memutuskan. Contoh: “Ahrefs vs Semrush”, “rekomendasi tools SEO terbaik.”

Kenapa ini penting? Karena kalau kamu salah membaca intent, kontenmu tidak akan relevan — dan Google tahu itu.

Contoh nyata: keyword “cara riset keyword” punya intent informasional. Orang yang mengetikkan ini tidak sedang mau beli sesuatu — mereka ingin belajar. Jadi konten yang tepat adalah artikel edukatif seperti yang sedang kamu baca ini, bukan halaman produk atau landing page jualan.

Cara Riset Keyword untuk Pemula: Langkah demi Langkah

Oke, sekarang kita masuk ke bagian yang paling kamu tunggu. Ini adalah proses riset keyword yang saya gunakan — dan yang saya ajarkan ke klien-klien Crooud yang baru mulai belajar SEO.

Langkah 1 — Mulai dari “Seed Keyword”

Seed keyword adalah kata kunci dasar yang paling merepresentasikan topik bisnis atau konten kamu. Ini titik awal sebelum kamu menemukan keyword yang lebih spesifik.

Cara menemukannya sederhana: bayangkan kamu adalah pelangganmu sendiri. Apa yang kamu ketikkan di Google saat mencari produk atau informasi seperti yang kamu tawarkan?

Misalnya, kalau kamu punya toko online yang jual produk skincare lokal:

  • “skincare lokal”
  • “cara merawat kulit berminyak”
  • “rekomendasi skincare untuk remaja”

Tulis semua yang terlintas di kepalamu dulu. Jangan filter. Biarkan mengalir.

Langkah 2 — Manfaatkan Google Suggest (Gratis dan Akurat)

Ini cara paling sederhana yang sering diabaikan. Coba ketikkan seed keyword kamu di kolom pencarian Google — tapi jangan tekan Enter dulu.

Google akan langsung menampilkan daftar saran pencarian di bawahnya. Itulah yang benar-benar diketikkan orang di Google setiap harinya.

Contoh: ketik “cara riset keyword” di Google, maka akan muncul saran seperti:

  • cara riset keyword untuk youtube
  • cara riset keyword gratis
  • cara riset keyword di google
  • cara riset keyword untuk pemula

Semua saran itu adalah keyword nyata dengan pencarian aktif. Simpan semuanya.

Selain Google Suggest, scroll ke bawah halaman hasil pencarian dan lihat bagian “Pencarian terkait” — itu juga tambang keyword yang sering dilewatkan.

Langkah 3 — Eksplorasi dengan Tools Gratis

Setelah punya daftar awal, saatnya memperdalam dengan tools. Kabar baiknya: untuk pemula, tools gratis sudah lebih dari cukup.

Google Keyword Planner — Tools resmi dari Google ini tersedia gratis di dalam akun Google Ads. Kamu bisa memasukkan seed keyword dan langsung melihat estimasi volume pencarian per bulan, tren musiman, dan ide keyword turunan. Ini sumber data paling akurat karena langsung dari Google.

Ubersuggest — Tools dari Neil Patel ini punya versi gratis yang cukup lengkap untuk pemula. Kamu bisa lihat volume pencarian, tingkat kesulitan keyword (keyword difficulty), dan ide konten. Tampilan antarmukanya juga ramah untuk yang baru belajar.

Google Search Console — Kalau website-mu sudah ada dan sudah terhubung, GSC adalah harta karun tersembunyi. Di sini kamu bisa melihat keyword apa yang sudah membawa orang ke website-mu — bahkan keyword yang belum pernah kamu targetkan secara eksplisit.

AnswerThePublic — Tools ini menampilkan keyword dalam format pertanyaan: “apa itu…”, “bagaimana cara…”, “kapan harus…”. Sangat berguna untuk menemukan topik konten yang menjawab pertanyaan nyata audiens.

Langkah 4 — Pahami Dua Metrik Utama: Volume dan Difficulty

Saat kamu sudah punya daftar keyword, ada dua angka yang harus kamu perhatikan:

Search Volume adalah berapa banyak orang yang mencari keyword itu per bulan. Semakin tinggi angkanya, semakin banyak potensi traffic yang bisa kamu dapat.

Keyword Difficulty (KD) adalah seberapa sulit bersaing di keyword itu. Angkanya biasanya dalam skala 0–100. Semakin tinggi angkanya, semakin banyak website besar yang sudah menguasainya.

Untuk pemula, formula sederhana yang saya rekomendasikan:

Cari keyword dengan volume yang cukup (100–1.000 pencarian/bulan) dan KD yang rendah (di bawah 30). Ini yang sering disebut sebagai low-hanging fruit — buah yang tergantung rendah dan mudah dipetik.

Jangan tergiur langsung mengincar keyword dengan volume ratusan ribu per bulan. Website baru hampir tidak mungkin memenangkan persaingan di sana. Menang di keyword kecil dulu, bangun kepercayaan Google, baru naik ke keyword yang lebih kompetitif.

Langkah 5 — Kelompokkan Keyword Berdasarkan Topik

Ini langkah yang sering dilewati tapi dampaknya sangat besar. Setelah kamu punya daftar puluhan keyword, jangan langsung bikin satu artikel per keyword.

Kelompokkan keyword yang punya intent dan topik serupa. Dalam satu artikel, kamu bisa menarget beberapa keyword sekaligus secara natural.

Contoh: artikel yang sedang kamu baca ini menarget:

  • cara riset keyword
  • cara mencari keyword SEO
  • cara memilih keyword
  • cara riset kata kunci

Semua keyword itu punya intent yang sama — pemula yang ingin belajar proses riset keyword dari awal. Jadi satu artikel yang komprehensif bisa menjawab semuanya sekaligus.

Dalam dunia SEO, ini disebut keyword clustering — dan menurut Search Engine Journal, pendekatan ini lebih efektif daripada membuat artikel terpisah untuk setiap keyword dengan intent yang sama.

Langkah 6 — Analisis Kompetitor di Halaman Pertama Google

Sebelum kamu commit untuk menulis artikel tentang satu keyword, buka Google dan ketik keyword itu. Lihat 5–10 hasil teratas.

Perhatikan:

  • Website apa yang muncul? Apakah semuanya website besar dan established?
  • Jenis konten apa yang dominan? Artikel panjang, video, atau halaman produk?
  • Seberapa dalam mereka membahas topiknya?

Kalau halaman pertama dipenuhi website seperti Kompas, Detik, atau Kumparan — itu sinyal bahwa keyword tersebut sangat kompetitif. Mungkin belum saatnya kamu masuk ke sana.

Tapi kalau yang muncul adalah blog-blog biasa atau website yang kontennya dangkal — itu peluang. Kamu bisa membuat konten yang lebih baik dan lebih komprehensif.

Cara Memilih Keyword yang Tepat untuk Kamu

Setelah melakukan semua langkah di atas, kamu akan punya banyak pilihan keyword. Tapi bagaimana cara memilih mana yang harus diprioritaskan?

Gunakan tiga pertanyaan ini sebagai filter:

Pertama: Apakah keyword ini relevan dengan bisnis atau audiensmu? Volume besar tidak ada artinya kalau orang yang mencarinya bukan calon pelangganmu. Relevansi selalu nomor satu.

Kedua: Apakah kamu realistis bisa bersaing di keyword ini dalam 3–6 bulan ke depan? Jujurlah dengan kondisi website-mu saat ini. Kalau website baru, fokus ke keyword dengan KD rendah dulu.

Ketiga: Apakah ada intent yang jelas dan kamu tahu jenis konten apa yang harus dibuat? Kalau kamu bingung harus buat artikel, video, atau halaman produk — itu tanda intent-nya belum jelas. Analisis lebih dalam sebelum lanjut.

[INSERT IMAGE: Infografis berjudul “3 Filter Memilih Keyword yang Tepat” dengan tiga kolom: Relevansi, Kompetisi Realistis, dan Intent yang Jelas. Setiap kolom memiliki ikon dan penjelasan singkat. Style: Modern flat design, warna biru dan putih, font clean dan mudah dibaca.]

Kesalahan Umum yang Dilakukan Pemula Saat Riset Keyword

Setelah bekerja dengan ratusan klien di Crooud, saya melihat pola kesalahan yang sama berulang terus. Lebih baik kamu tahu lebih awal agar tidak harus belajar dari kesalahan yang mahal.

Mengincar keyword terlalu kompetitif sejak awal. Ini godaan terbesar. Semua orang ingin muncul di keyword “sepatu olahraga” — tapi itu sudah dikuasai brand-brand besar. Mulailah dari “sepatu lari untuk pemula wanita” atau “sepatu olahraga ringan untuk jalan kaki.” Lebih spesifik, lebih mudah dimenangkan.

Mengabaikan search intent. Menulis artikel informatif untuk keyword transaksional, atau sebaliknya, membuat konten jualan untuk keyword yang intent-nya belajar — ini penyebab bounce rate tinggi dan ranking yang tidak pernah naik.

Riset keyword sekali seumur hidup. Tren pencarian berubah. Topik yang populer enam bulan lalu bisa sudah tidak relevan sekarang. Jadwalkan riset keyword setidaknya setiap tiga bulan.

Terlalu fokus pada angka, lupa pada manusia. Volume pencarian adalah panduan, bukan tujuan akhir. Keyword dengan 200 pencarian per bulan tapi sangat relevan dengan audiens spesifikmu jauh lebih berharga daripada keyword 10.000 pencarian yang tidak konversi.

Checklist Riset Keyword untuk Pemula

Simpan checklist ini sebelum kamu mulai nulis artikel berikutnya:

  • Saya sudah mendefinisikan seed keyword yang relevan dengan topik
  • Saya sudah eksplorasi Google Suggest dan “Pencarian terkait”
  • Saya sudah cek volume pencarian dengan minimal satu tools gratis
  • Saya sudah memahami search intent di balik keyword pilihan saya
  • Saya sudah cek tingkat kesulitan keyword (keyword difficulty)
  • Saya sudah menganalisis isi 5 halaman teratas di Google untuk keyword ini
  • Saya sudah mengelompokkan keyword yang punya intent serupa
  • Saya sudah memilih keyword utama dan 2–3 keyword pendukung untuk artikel ini

Penutup

Belasan tahun di dunia ini, satu hal yang paling saya percaya: SEO bukan soal mengalahkan algoritma Google. SEO adalah soal memahami manusia — apa yang mereka cari, kenapa mereka mencarinya, dan apa yang benar-benar membantu mereka.

Riset keyword adalah titik awal dari semua itu. Bukan sekadar rutinitas teknis yang harus dilakukan karena artikel-artikel SEO bilang begitu — tapi karena tanpanya, kamu sedang berbicara ke ruangan yang kosong.

Mulai dari langkah kecil. Eksplorasi Google Suggest hari ini. Buka Google Keyword Planner minggu ini. Tulis satu artikel dengan keyword yang sudah kamu riset dengan benar. Rasakan perbedaannya.

Kalau kamu merasa proses ini masih terasa berat atau ingin ada yang memandu lebih jauh, tim Crooud siap bantu — mulai dari riset keyword sampai strategi konten yang sesuai dengan kondisi bisnis dan website-mu.

Selamat mencoba, dan selamat nulis konten yang benar-benar ditemukan orang. 🙌

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah riset keyword harus menggunakan tools berbayar seperti Ahrefs atau Semrush?

Tidak harus, terutama untuk pemula. Tools gratis seperti Google Keyword Planner, Ubersuggest versi gratis, dan Google Search Console sudah cukup untuk memulai. Tools berbayar memang memberikan data yang lebih lengkap dan akurat, tapi sebaiknya kamu invest di sana saat website-mu sudah mulai berkembang dan butuh analisis yang lebih mendalam.

Berapa banyak keyword yang idealnya ditarget dalam satu artikel?

Untuk satu artikel, idealnya ada satu primary keyword (kata kunci utama) dan 2–5 secondary keyword yang punya intent serupa. Hindari memasukkan terlalu banyak keyword yang berbeda-beda — itu justru membuat artikel terasa tidak fokus dan membingungkan Google tentang topik utama kontenmu.

Apakah keyword dengan volume rendah (di bawah 100/bulan) layak dikejar?

Sangat layak, tergantung konteksnya. Keyword dengan volume rendah sering punya persaingan rendah juga, sehingga lebih mudah dimenangkan. Selain itu, kalau keyword itu sangat spesifik dan relevan dengan bisnis kamu (misalnya “jasa SEO untuk toko online di Malang”), orang yang mencarinya kemungkinan besar memang calon pelanggan serius.

Seberapa sering saya harus melakukan riset keyword?

Minimal setiap 3 bulan sekali untuk keyword yang sedang kamu targetkan, dan setiap kali sebelum mulai membuat konten baru. Tren pencarian berubah, topik baru muncul, dan kompetitor terus bergerak. Riset keyword bukan aktivitas sekali jalan — ini bagian dari ritme kerja konten yang sehat.

Apa bedanya “keyword” dengan “topik konten”?

Keyword adalah frasa spesifik yang diketikkan orang di Google. Topik konten adalah area pembahasan yang lebih luas. Satu topik konten bisa mencakup banyak keyword. Misalnya, topik “cara merawat kulit” bisa mencakup keyword seperti “rutinitas skincare pagi hari”, “cara merawat kulit kering”, dan “urutan pemakaian skincare yang benar.” Riset keyword membantumu menemukan keyword spesifik mana yang layak dijadikan konten.

Leave a comment